
KOTA JAMBI — Suasana simulasi ujian digital MAN 2 Kota Jambi yang semula berjalan lancar mendadak berubah menegangkan ketika tim IT menemukan sejumlah perangkat yang gagal menjalankan aplikasi ujian. Di tengah penerapan ujian berbasis Computer Based Test (CBT) yang mengikuti tren AI, digitalisasi pendidikan, keamanan sistem, edutech, Kurikulum Merdeka, dan teknologi Android, muncul pesan peringatan otomatis yang langsung membuat siswa dan pengawas memberi perhatian: “Aplikasi tidak bisa jalan pada device ini.”
Tim IT berikan troubleshooting yang siaga sejak pagi langsung menelusuri sumber masalah. Dari pemeriksaan sistem, ditemukan bahwa perangkat yang mengalami error tidak dinyatakan rusak, melainkan terdeteksi menjalankan aplikasi yang berpotensi digunakan untuk kecurangan teknis. Sistem keamanan aplikasi CBT mengeluarkan peringatan Error 101, yakni teridentifikasi aplikasi tambahan seperti Floating Apps, Split Screen, Virtual Machine, MultiWindow, atau aplikasi yang memungkinkan tampilan layar ganda. Aplikasi jenis ini dikhawatirkan dapat digunakan untuk membuka materi lain, mencatat jawaban, atau menjalankan proses yang tak sesuai prosedur ujian.
Selain itu, akan muncul juga Error 102, di mana perangkat siswa terdeteksi menjalankan aplikasi ujian melalui emulator atau virtual machine. Sistem langsung memblokir akses masuk, karena penggunaan emulator memudahkan manipulasi sistem seperti mengakses lebih dari satu tab, menyalin jawaban, atau merekam tampilan soal tanpa terdeteksi. Tim IT menyebut langkah pemblokiran ini sebagai standar keamanan yang umum diterapkan dalam sistem ujian digital modern di berbagai institusi pendidikan nasional.
Tim IT MAN 2 Kota Jambi merilis daftar aplikasi yang tidak diperbolehkan terpasang atau aktif selama ujian berlangsung. Di antaranya adalah: Virtual Master – Android Clone, Floating Apps (multitasking), Sticky Notes, MultiWindow Manager, Split Screen Shortcut, Assistive Touch Pro, Floating Multitasking, Multi Accounts, Virtual Android Space, Multi Video Player, Dual Browser Split Screen, dan sejumlah aplikasi serupa yang memungkinkan layar terbelah atau manipulasi tampilan. Daftar ini dipasang untuk menjaga integritas sistem dan memastikan semua peserta berada pada kondisi ujian yang adil dan setara.
Panitia menambahkan bahwa deteksi semacam ini bukan untuk menuduh siswa berbuat curang, tetapi memastikan sistem digital berjalan aman, profesional, dan mengikuti standar keamanan global. Tim IT juga melakukan penanganan cepat dengan meminta siswa menghapus aplikasi bermasalah, melakukan reboot sistem, lalu mencoba login ulang. Dalam sebagian besar kasus, masalah dapat diatasi dan siswa mampu melanjutkan simulasi tanpa kehilangan jawaban atau waktu ujian yang signifikan.
Hal ini menjadi evaluasi penting sebelum ujian resmi dimulai, mengingat PAS Ganjil Tahun Pelajaran 2025/2026 akan berlangsung pada 26 November hingga 5 Desember 2025. Dengan sistem pengawasan dan keamanan yang semakin ketat, MAN 2 Kota Jambi menegaskan diri sebagai madrasah yang tidak hanya menerapkan ujian digital, tetapi juga memastikan pelaksanaannya berjalan jujur, transparan, dan sesuai standar pendidikan berbasis teknologi di Indonesia — sebuah penegasan bahwa nilai akademik harus diraih melalui usaha, bukan celah sistem. (AA-HUMAS)
|
74x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...