Selamat Datang di Website Resmi MAN 2 Kota Jambi

Kesiswaan: Karya Siswa


Cerpen Karya Siswa

JINGGA DAN RANGGA

Karya: Fina Badriah

      Semua yang menyapa setiap sendi kehidupan, selalu mempunyai peluang untuk bergerak maju atau memilih untuk tetap bertahan dan setiap yang hadir akan ada saatnya untuk ia pergi karena tugasnya telah usai.

      Sesaat namun begitu berkesan. Kenangan yang terlukis begitu membekas hingga sulit untuk bisa dilupakan begitu saja. Sama seperti hadirnya dirimu yang turut serta mengisi ruang hampa dalam hidupku.

     Dulu, kata kita selalu terukir dengan indah. Merangkai setiap potret kenangan menjadi ribuan peristiwa dan memajangnya dengan penuh rasa yang sama meski waktu pada akhirnya harus berkata bahwa alur kita kini telah berbeda. Dunia yang kita jalani kini memiliki ruang dan membatasi kita untuk sekedar berjumpa di penghujung senjani.

     4 tahun lamanya, kata selamat tinggal telah kita lalui tanpa terasa bahwa kita memiliki tujuan masing-masing. Masih pada rasa yang sama hanya saja waktu dan hari yang berbeda. Terkadang aku tak merasa bahwa aku baik-baik saja, itu karena kau telah membawa sebagian diriku pergi bersamamu di duniamu yang baru.

     Namaku Jingga, yang telah lama dipisahkan dari Rangga untuk selama-lamanya. Tak ada alasan yang kuat untukku mempertahankan Rangga agar tetap berada disisiku saat itu. Karena pada hakikatnya takdir datang dengan membawa rencana-rencana gagal dan meluluh lantahkan setiap harapan yang telah lama dibangun bersama. Mereka memanggilku ‘Ji’, tapi tidak dengannya, ia memanggilku ‘Senja’.

    Perkenalanku dengannya bermula ketika Rangga menjadi salah satu duta bahasa di sekolah kami, SMA CITRA NUSANTARA.  Kepiawaiannya dalam bertutur bahasa dan kharismatiknya dalam berpuitis, menjadikannya idola khususnya idola bagi para kaum hawa disekolah. Banyak dari mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian dari Rangga, namun layaknya suhu di kutub sedingin itulah sikap Rangga terhadap mereka. Kala itu Rangga berstatus sebagai kakak tingkatku XI SASTRA  1.

    Sampai pada suatu saat, ketika aku sedang asyik bermain bersama ribuan kata dan banyaknya tumpukan buku disisiku ternyata , tiba-tiba Rangga hadir tepat dihadapanku sembari menyodorkan secarik kertas putih kearahku. Entah apa maksudnya, aku pun tak bisa membaca isyarat dari tatapan matanya yang begitu indah ketika menatapku. Sampai pada akhirnya ia berlalu dan perlahan hilang dari pandangan mataku. Aku mencoba meraih kertas putih itu, perlahan tapi pasti aku pun memutuskan untuk membuka dan membacanya.

‘mentari pagi ini begitu bersinar, beriringan bersama mekarnya kelopak bunga, menambah pesona kumbang untuk menyinggahinya. Tapi, semua itu terkalahkan, tatkala tatapan matamu menyapa pagiku. Kali ini kau berhasil membuat senyumku merekah bahkan lebih imdah daripada langit yang menua di ufuk senja’.

     Aku tertawa ketika membacanya, sepucuk surat dari lelaki biasa yang begitu lihai dalam menyanjung wanita. Aku pun segera membalas surat tersebut, dengan lirihnya tintaku bercerita ,,,,    

‘Semua membutuhkan proses dalam mencapai sebuah tujuan, bahkan kumbang sekalipun. Jangan hanya mengawali jika hanya sesaat menyapaku disini dan jangan terlalu jauh bemain rasa, terkadang yang terlihat tidaklah mewakili kenyataan yang sebenarnya’.

    Kembali kuletakkan balasan surat untuknya dan beranjak pergi. Aku tak tahu mengapa semua begitu cepat hadir menyapa alur kehidupanku, yang jelas aku mengenalnya melalui caraku sendiri.

    Sekian lama setelah kejadian itu, kedekatanku dengan Rangga  berjalan mengikat sebuah tali persahabatan, hingga tanpaku sadari, ada rasa yang perlahan hadir diantara kami. Bagiku kehadirannya membawa wajah baru hingga berhasil merubah caraku dalam memandang dunia.

    Suatu saat ketika bel pulang sekolah berbunyi, tiba-tiba Rangga menghadang perjalananku dan mengajakku pergi ke suatu tempat. Aku pun mengiyakan ajakan Rangga  kala itu.  Di sepanjang perjalanan, kami terus saling tertawa  dan menceritakan hal-hal konyol bersama. Hingga pada akhirnya Rangga  mengubah topik pembicaraan, tanpa ku sadari perlahan raut wajahya berubah menjadi sendu bak langit kelabu.

‘‘Senja,,, ada yang ingin ku ceritakan tentang masa laluku’’??,,. Tuturnya lirih.

‘‘Ceritakan saja, kenapa harus meminta izin’’,,. Jawabku.

‘‘Dulu, aku bukanlah Rangga yang kini kau kenal. Aku begitu tertutup, bahkan waktuku selalu ditemani kesendirian yang selalu menyapa dalam kesenduan. Itu semua bermula ketika aku harus bisa menerima salam perpisahan dengan lapang dada’’,,. Keluhnya.

     Sembari mendengarkan Rangga bercerita, aku terus menatap matanya. Bukan pelangi yang ku lihat melainkan rintik hujan yang perlahan turun hingga membasahi pipinya.

 ‘‘Namanya adalah Senja. Wanita yang berhasil menyapa kehidupanku, membuatku lebih luas lagi dalam mengenal dunia luar, dia sangat mirip denganmu’’,,.tuturnya lirih.

 Disana ada raut wajah yang begitu sendu dengan tatapan mata yang begitu sayu. Rupanya, di tempat inilah awal sekaligus akhir dari perjalanan diantara mereka.

   Aku tersenyum padanya sembari menguatkan bahwa aku akan tetap selalu disampingnya meski kelak takdir berkata lain untuk itu semua.

   Dengan lirihnya Rangga  berkata sembari menatap langit yang menua,,,

‘‘Senja,,,

Beribu hari yang lalu, kita masih berada pada tempat dan waktu yang sama. Tapi kini, kau pergi dengan sendirinya, membawa ribuan kenangan indah saat kita melewati hari-hari indah bersama. Jangan khawatir akan tentangku, aku akan tetap baik-baik saja, karena kini JINGGA akan menemaniku sama seperti dulu, saat SENJAKU menjadi penutup indah dari letihnya mengarungi samudra’’,,,.

  Sejak saat itu, aku merasa bahwa ada yang berbeda meski kenyataannya Rangga  begitu baik menerimaku hadir dalam hidupnya. Kepercayaanku kini kian memudar, tatkala Rangga  terasa menjauhiku tanpa ada sebab yang mendasar. Setiap kali kami berjumpa Rangga seolah menghindar untuk sekedar bertemu dan menyapaku seperti biasanya. Hatiku kian terus bertanya, mengapa begitu mudahnya ia pergi tanpa pernah pamit kepadaku.

   Aku pun berusaha menghubunginya , meski keraguanku lebih besar dibandingkan kepercayaanku padanya. Malam itu Rangga menjawab teleponku,,

‘‘Besok apakah kita bisa bertemu seperti biasa? ada hal yang ingin kubicarakan’’,,,. Tanyaku.

‘‘Dimana’’??,,,. Cetusnya lugas.

‘’Di tempat biasa sepulang sekolah, aku harap kamu bisa meluangkan waktumu sejenak’’,,,. Jawabku .

   Tanpa ada jawaban dia langsung menutup telepon dariku. Keesokan harinya ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku segera mempercepat langkah. Setibanya di sana nihil hasil yang kuterima tetap saja Rangga lagi-lagi tidak hadir menemuiku. Aku pun memutuskan untuk menunggunya sekitar 5 menit namun tetap saja Rangga  tidak juga menampakkan tanda-tanda kehadirannya.

  Langit yang menua, harap yang kini pupus entah kemana arahnya,  angin yang menyapa seolah membawa kabar untuk segera bergerak mundur dan melupakannya. Kenangan indah yang sempat terlintas seolah menambah goresan luka yang membekas. Sejak saat itu aku memutuskan bahwa aku akan menjalani hidupku sendiri tanpa ada unsur kata dia disana.

  3 bulan lamanya, aku menjalani setiap detik tanpa ada Rangga  yang menemaniku seperti biasa. Hingga tiba saatnya ketika teman dekat Rangga  menghampiriku dan menceritakan semua tentang keadaan Rangga  selama ini.

  Bagai disambar petir disiang bolong, sebuah kenyataan pahit kini harus ku terima dengan sesak di dada. Ternyata selama ini Rangga menyembunyikan tentang penyakitnya kepadaku.  Selama ini ia mengidap penyakit kanker otak stadium akhir dan saat ini ia masih menjalani proses pengobatan di RUMAH SAKIT AL-FARABI, sontak saja aku langsung pergi dan mempercepat langkah, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan saat itu, yang jelas aku harus segera bertemu dengan Rangga.

   Malam harinya aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Dengan harapan aku masih bisa bertemu dengannya dan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Dengan langkah yang tergesa-gesa aku pun segera menuju ke ruangan tempat dimana Rangga dirawat selama ini. Sesampainya disana, aku menemui ibunda Rangga  yang dengan lembutnya menyambut kedatanganku. Aku pun dipersilahkan untuk memasuki ruang inap dan betapa terkejutnya aku tiba-tiba saja Rangga  dengan matanya yang sayu masih mampu memberiku senyuman selamat datang, sembari berkata,,,

‘’Senja’’,,, .

     Aku pun segera berjalan ke arahnya dan langsung meminta maaf karena tidak bisa selalu ada disaat ia membutuhkan. Lalu, disana Rangga menjelaskan alasannya kenapa ia merahasiakan semuanya dariku, ternyata ia hanya tidak ingin menyisahkan kesedihan dimata orang yang sangat ia sayangi.

  Malam yang penuh dengan gemerlapnya cahaya bintang, hingga kelabunya awan nyaris tersinari dengan cahayanya. Aku dan Rangga  menghabiskan malam dengan berbincang-bincang sejenak sembari menatap langit bersama.

‘‘Senja,, jika nanti aku menjadi bintang, apa kamu akan terus merindukan pertemuan diantara kita’?’,,,. Ujar  Rangga.

‘’Tanpa kamu pinta, aku akan selalu merindukanmu dengan bahasa kerinduanku, karena aku yakin bintang yang paling terang itu adalah kamu’’,,,. Jawabku sembari menatap wajahnya.

   Waktu semakin cepat bergulir dan angin terus menghembuskan suasana malam yang begitu hening. Aku pun memutuskan untuk mengajak Rangga  kembali ke dalam dan memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Saat aku ingin melangkahkan kaki, tiba-tiba saja Rangga menahan langkahku dan berkata lirih,,

‘’ kelak tetaplah tersenyum meski tanpa hadirku dihidupmu, teruslah menjalani setiap detik tanpa ada keraguan dan bayang-bayang masa lalu yang menyelimutimu, jangan khawatir disetiap langkahmu aku aka ada untuk menemani meski dari ruang yang berbeda namun tetap pada rasa yang masih sama sampai kamu ikut terlelap bersamaku’’,,,. Ujarnya.

    Aku tak mengerti dengan apa yang Rangga  ucapkan padaku, aku hanya mampu tersenyum padanya sembari melambaikan salam selamat tinggal.

    Dini hari tepat pada pukul 02.00 aku menerima kabar dari ibunda Rangga , bahwa saat ini Rangga sedang menghadapi masa kritisnya. Aku terkejut tatkala membaca pesan singkat di handphoneku. Secepat mungkin aku mengajak ayah dan juga ibu untuk segera pergi menuju rumah sakit.

   Di sepanjang perjalanan aku hanya bisa terus berdoa di dalam hati, semoga Tuhan masih memberiku kesempatan untuk bisa bertemu dengan Rangga  meski ku tahu mungkin ini adalah pertemuan terakhirku dengannya.

   Setibanya disana aku pun bergegas menuju ruang ICU yang berada dilantai 4. Namun setibanya disana ternyata takdir berhasil mendahuluiku , aku terlambat ternyata Rangga sudah pergi untuk selama-lamanya. Pikiranku kacau, air mata kesedihanku tak dapat kusembunyikan lagi, aku termangu hingga semua terasa begitu gelap dan aku kehilangan kesadaran.

    Fajar menyapaku, dengan lembutnya ibu mendekapku sembari memberiku kekuatan melalui kata-katanya, aku baru sadar, jika kini Ranggaku sudah benar-benar tertidur dengan lelapnya. Upacara pemakaman pun segera dimulai, aku tidak kuat jika harus berlama-lama menatap jenazah orang yang kusayangi hanya bisa terbujur kaku tak berdaya. Setelah proses pemakaman selesai, aku dan keluarga memutuskan untuk pulang ke rumah, tapi sebelum itu aku mengucapkan selamat tingga padanya,,

‘’Rangga,, aku pamit dulu ya, aku tahu kamu lelah. Kamu tidak perlu khawatir lambat laun aku akan terbiasa dengan semua ini. Aku akan kembali besok, tunggu aku ya disana’’,,,Ujarku lirih.

    Sebelum kami meninggalkan tempat pemakaman tiba-tiba ibunda Rangga  memberikanku surat, ternyata sebelum ia wafat, ia sempat menulis surat untukku. Perlahan aku membukanya dengan isak tangis yang menguyur pipiku dan perlahan aku mulai membacanya,,

 ‘‘Teruntukmu bunga kehidupanku,,,

Tuhan begitu baik karena telah mengizinkanku untuk bisa menghabiskan sisa usiaku bersamamu. Kamu yang dengan sabarnya mengerti akan sikapku. Terimakasih karena menerimaku dalam hidupmu dan mewarnai setitik cerita dalam kisah perjalanan hidupku.

Senjaku,,,

Berbahagialah dengan dia yang nanti akan menggantikanku untuk mengisi kekosongan hatimu, hargailah ia sebagaimana mestinya. Jalani alur hidupmu dengan warna yang baru.

Satu hal yang pasti, mulailah lembaran baru dengan dia yang kamu pilih, karena pada hakikatnya TUHAN mengizinkanku untuk bisa mengenalmu tapi bukan untuk menua bersamamu’’,,,,.

Dariku yang mencintaimu meski berbeda ruang dan waktu.

    

   Untuk itu, hargailah seberapa besar perhatian yang dia berikan untukmu, meski itu terlihat biasa saja bagimu, karena kamu baru akan menyadari betapa besar perhatian yang ia berikan setelah nanti kamu kehilangan sosoknya untuk selama-lamanya.

                                        SELESAI

 

 

karya siswakarya siswakarya siswakarya siswaKarya Siswa


Go Back To Home

Jadwal Sholat

Untuk Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya

Memuat tanggal...

Imsak--:--
Subuh--:--
Terbit--:--
Dhuha--:--
Dzuhur--:--
Ashar--:--
Maghrib--:--
Isya--:--

Peta Belum Disematkan

Mars Madrasah