
KOTA JAMBI — Muhammad Rehan masih tak percaya. Namanya kini tercatat sebagai salah satu calon mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir — kampus impian banyak pencari ilmu dari penjuru dunia. Ia bukan anak tokoh ternama. Ia bukan pula santri dari pesantren besar. Ia hanya Rehan, anak dari seorang satpam dan ibu penata rias, yang tumbuh di tengah kesederhanaan, tapi bertekad luar biasa.
“Orang tua saya mungkin tak bisa memberi harta yang banyak, tapi mereka memberi saya semangat dan doa yang tak pernah putus,†ucap Rehan lirih.
Setiap langkah hidupnya dituntun oleh rutinitas yang mungkin tak banyak dilakukan anak seusianya. Bangun sebelum subuh, bermunajat dalam sunyi, mengisi pagi dengan tahajjud, dzikir, dan tilawah — lalu berangkat sekolah dengan hati yang lapang dan tekad yang bulat.
“Saya percaya, hidup harus dijalani dengan tertib. Ibadah dijaga, waktu dihargai, ilmu dikejar,†ujarnya.
Hafalan, Kaligrafi, dan Kesederhanaan
Rehan dikenal sebagai siswa yang pendiam, hemat, dan sangat disiplin. Saat jam istirahat, ia memilih tetap di kelas, menjauh dari kantin dan keramaian. Baginya, satu lembar ayat yang dihafal lebih berharga dari sepotong jajanan.
Ia telah menghafal 6 juz Al-Qur’an dan kitab Aqidatul Awam bil ghoib. Fikih menjadi pelajaran yang paling ia sukai, karena menurutnya, "Fikih adalah cahaya yang membimbing cara hidup seorang muslim agar tak tersesat."
Di balik ketekunannya, Rehan juga seorang seniman kaligrafi. Ia menjuarai lomba kaligrafi di tingkat sanggar dan sekolah. “Kaligrafi itu bukan hanya seni, tapi dzikir yang dituangkan dalam garis dan warna,†katanya.
Hidup Tertib, Jauh dari Maksiat
Tak seperti remaja kebanyakan, Rehan punya pandangan hidup yang tegas. Ia menjaga pergaulan, menghindari maksiat, dan memilih berteman seperlunya jika tak menemukan lingkungan yang sejalan dengan prinsip hidupnya.
“Setiap maksiat adalah parasit. Ia membakar semangat, mematikan niat. Karena itu saya menjaga diri,†ungkapnya. Ia juga punya prinsip unik: “Jangan dulu dekat-dekat wanita, fokus dulu pada impian.â€
Menurutnya, impian setinggi langit bisa dicapai asal ibadah dijaga, doa dipanjatkan, dan langkah tetap di jalan lurus. "Tidak perlu menjadi sempurna, tapi teruslah menyempurnakan diri."
Lima Sekawan dalam Satu Rumah
Rehan adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Sang ayah adalah security di sebuah perusahaan. Ibunya bekerja di salon tata rias. Abangnya, Rafi Suni Al Fajar, sedang menyelesaikan kuliah di Universitas Jambi. Sedangkan sang adik, Reno Al Farizi, baru lulus MTs dan bercita-cita masuk madrasah seperti Rehan.
“Kami tak punya banyak, tapi kami saling dukung. Saling doakan. Itu kekuatan kami,†ujar Rehan.
Menjaga Mimpi, Merawat Cita-cita
Kini, Rehan bersiap mengepak koper untuk menempuh hidup baru di negeri para ulama. Kairo, Mesir, telah menantinya — bukan hanya sebagai tempat belajar, tapi juga sebagai ruang untuk menempa dirinya menjadi pemuda Islam yang paham, mengamalkan, dan menebar manfaat.
“Saya ingin jadi hafiz, jadi pemuda yang mengerti agama dan bisa membantu orang lain. Saya ingin jadi cahaya bagi keluarga dan masyarakat.â€
Ia tahu jalannya tak mudah, tapi ia percaya setiap langkah akan dimudahkan oleh Allah selama dijalani dengan ikhlas. “Saya tidak mengejar kesempurnaan, saya hanya ingin terus berproses, menjaga yang harus dijaga, dan tumbuh dalam kebaikan.â€
“Boleh punya mimpi setinggi langit, asal semangatnya setangguh bumi. Dan jangan lupa, jauhi maksiat, karena dosa itu pencuri cita-cita,†tutup Rehan dengan senyum malu-malu.(AA-Humas)
|
225x
Dibaca |
Untuk Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...