
Kota Jambi - Dunia pendidikan lagi-lagi diguncang kabar yang bikin geleng kepala. Insiden kecurangan dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 mendadak viral setelah beredar video siaran langsung alias live TikTok dari oknum peserta ujian yang nekat menayangkan proses ujian secara real time! Bukan cuma itu, sejumlah tangkapan layar juga menunjukkan adanya penyebaran soal-soal ujian lewat platform X (Twitter), grup WhatsApp, bahkan channel Telegram!
Kabar ini sontak jadi bahan perbincangan hangat di media sosial, mulai dari forum siswa, grup sekolah, sampai timeline para pelajar. Tapi di tengah gegap gempita dunia maya, para siswa MAN 2 Kota Jambi menanggapinya dengan bijak - mereka angkat suara, menegaskan bahwa integritas jauh lebih berharga daripada sekadar popularitas.
Salah satu siswi MAN 2 Kota Jambi, Hana Nur Aisyah, dengan lantang mengkritik tindakan curang tersebut.
"Sebagai generasi yang udah dikelilingi teknologi, saya juga menelusuri permasalahan itu agak rinci. Ternyata, oknum yang melakukan tindakan curang bukan cuma lewat live TikTok, tapi juga nyebar soal TKA lewat X dan grup WhatsApp, bahkan ada channel-nya loh!" ujar Hana dengan nada kesal.
Ia menambahkan bahwa tindakan seperti itu bukan hanya melanggar aturan, tapi juga mencederai makna dari ujian itu sendiri.
"Menurut saya, oknum yang curang di TKA sambil live TikTok atau bentuk kecurangan lainnya itu nggak keren sama sekali. TKA itu buat ngukur kemampuan diri sendiri, bukan ajang cari perhatian. Mereka malah bikin malu sekolah dan ngerugiin peserta lain yang udah usaha jujur. Intinya, pamer di sosmed tapi caranya salah itu nunjukin kalau dia nggak tanggung jawab."
Nada kecewa juga datang dari M. Khalifah Syukron, salah satu peserta TKA dari MAN 2 Kota Jambi yang baru saja menuntaskan ujian tersebut.
"Sebagai siswa yang baru aja selesai TKA, jujur saya cukup kecewa sama oknum yang malah live di TikTok dan nyebarin soal-soal TKA itu. Meskipun mereka udah selesai ngerjain, tindakan kayak gitu tetep salah dan nggak bisa dibenarkan," ujarnya tegas.
Syukron juga menyoroti aspek moral dan etika akademik yang dilanggar.
"Soal-soal TKA itu bersifat rahasia dan dijaga ketat. Nyebarinnya ke publik sama aja melanggar aturan ujian. Yang paling kasihan tuh teman-teman yang udah belajar keras, begadang, berjuang sepenuh hati buat ngadepin TKA dengan jujur. Kalau soal bocor dan dipakai lagi, bisa aja hasil ujian seluruh peserta jadi diragukan. Itu yang paling nyakitin," tambahnya dengan nada prihatin.
Sementara itu, Syukron yang juga pernah menjabat sebagai Ketua OSIM 2 periode ini juga memberikan tanggapan yang menyejukkan namun penuh makna.
"Menurut saya pribadi nih, hal kayak gini harus jadi pelajaran serius buat kita semua. Jadi pelajar itu bukan cuma soal pintar, tapi juga soal integritas dan tanggung jawab. Nilai tertinggi itu bukan dari jawaban, tapi dari kejujuran kita selama prosesnya. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kesuksesan bagi kita semua yang bertindak jujur. Aamiin ya Rabbal 'Alamin," ujarnya dengan nada penuh refleksi.
Di sisi lain, siswa kelas XII MIA 5, Fakhri Hedi Susena, nggak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
"Menurut saya yah pak, kecewa banget sih. Padahal saya udah capek-capek belajar sampai les malam buat ngebuktiin bisa dapet nilai terbaik, tapi malah ada yang curang sampai bocorin soal-soalnya. Jadi kayak ngerasa dikhianatin banget sih," ujarnya dengan ekspresi kesal.
Tak jauh berbeda, Zora Mafrina, teman dekat Hana, ikut menyoroti aspek pengawasan dalam pelaksanaan ujian.
"Berita yang lagi sliweran tentang live saat TKA bener-bener bikin shock dan sakit hati liatnya. Itu merugikan peserta lain dan nggak adil buat yang udah belajar maksimal. Walaupun soalnya beda-beda tiap sesi, tindakan kayak gitu tetap aja melanggar peraturan. Saya malah jadi mikir, gimana bisa ada peserta yang lolos bawa HP bahkan sampai live kayak gitu? Harus ditindaklanjuti sih, udah terlanjur kecewa berat," tegasnya.
Kasus ini memang bukan sekadar pelanggaran teknis, tapi juga tamparan keras bagi dunia pendidikan. Di era digital, di mana segala hal bisa direkam dan disebar hanya dengan satu klik, ujian kejujuran dan integritas pelajar justru jadi semakin berat.
Namun, tanggapan para siswa MAN 2 Kota Jambi menunjukkan bahwa masih banyak generasi muda yang sadar arti nilai sejati: bukan sekadar angka di lembar ujian, tapi karakter dan kejujuran yang dibangun dari proses panjang.
Dan di tengah hiruk pikuk dunia maya, suara mereka jadi pengingat kuat: Viral boleh, tapi jangan sampai moral ikut tercoreng! (HT-Humas)
|
768x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...